taro seaweed

  Di Multazam

Seseorang, pernah di Multazam. Sebuah tempat yang kala itu terkenal karena paman. Ia dan aku adalah bagian darinya, tetapi Ia pergi begitu cepat, tak ada kabar hingga 71 tercatat. Bertemu sekian lama, yang pertama dibenak adalah Multazam masa-masanya. Pengantar tidur diri, tetapi satu ilahi. Sengklek pada masanya, berubah karena masa. Cuma satu yang diraba, masa depan yang tak kunjung jua. Tidak Lolos bukanlah perkara mudah, lolosnya perkara yang resah. Berpacu dengan waktu, kertas dan teknologi, demi membuka jendela dunia dan masa depan yang berada di gengaman tangan. Hampir genap 2 tahun bersama, berbau harum tak luput di dalam kenanga. Aku banyak berhutang kepadanya, antarjemput tak akan kulupa. Hanya waktu yang memisahkan kita, kelak kan ku gapai masa depanku juga. Ada saat dimana kita bersama, ada saat di kala kita kemana. Sudiang dilock, pintu keluar ada disana, kau dijemput sudiang ku dicabut. Asikk, jangan pergi jauh-jauh cukup di bandung saja, agar aku bisa menyusulmu dan kita belajar bersama.

Akan terbengkalai sebuah kapal, jika di dalamnya telah tenggelam. Tak ada maksud melainkan depal. Walau telah dijanjikan, tetap harus diusahakan, dikala kalah dan menang adalah ketetapan tuhan. 

Comments

Post a Comment