Warna Dahlia

Jalan Angan-angan

 Ku terjebak dalam angan, dan aku tersadar setelah ia mengatakan hal itu. Tawa bercampur haru membuatku pupus dalam sekejap waktu. memang benarlah apa yang dikatakan olehnya, membuatku terhengkang akan kenyataan yang menunggu di waktu nanti. Entah kenapa rasanya aneh ketika mendengar hal itu. Aku terlalu banyak mengkhayalkan hal yang tak tentu, angan dan kenangan aku terjebak dan tak dapat terlepas. Saat ku berangan tentangmu, membuatku kuat namun bersemangat dalam mengejarmu, mengejar takdirmu dan mengejar hatimu. Hari itu kau mengatakan hal yang tidak, anganku mampu. Kau membuatnya hancur dan mengeluarkan diriku dalam keadaan teruk. "Jalan angan-angan" adalah kata yang menghancurkanku. Sekejap diriku yang lain mengatakan ''Hebat, Hebat kenapa aku bisa memikirkan orang yang tak memikirkanku?, kenapa aku bisa sampai mengkhawatirkan seseorang yang tak mengkhawatirkanku, yang tak memberi manfaat dan tak menahanku dari perbuatan jahat? lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? dia lah yang membuatku tenang, perasaan ini sangatlah runyam tanpa ada, dirinya.'' Hari itu adalah hari akhir dari dirimu, bila kita ditakdirkan maka kita akan bersatu. Bila itu tak terjadi adalah tanda bahwa aku tak layak bagimu. Oleh karena itu hingga saat ini dan saat yang akan datang, aku akan mencoba untuk melupakanmu dan menganggap sirnamu. Hanya saja itu takkan berjalan mudah dan aku rasa ini lah yang istimewa, walau aku tak tahu harus berbuat apa? cara inilah saja yang membuatku lupa. dengan menganggapmu tak ada dan menganggapmu benci, namun itu tak kunjung jua. sekejap aku terpikir untuk mengetahui, kesalahan diriku. Sehingga aku terjebak dalam lingkaran setan yang tak aku dambakkan. tiap jengkal dan langkah yang aku limpahkan kepada dirimu, tak ada yang terlupa dan membuatku lebih tersiksa. Ini bukanlah cinta, ini adalah nafsu yang aku buat buat, tak ada nama cinta bila ada benci tapi benci adalah cinta. Maaf juga tak mampu, tuk membuatmu sirna dalam ingatanku, maafkan lah aku, maafkan lah diriku yang telah membuatmu jenuh. aku tak dapat langsung menghapus rasa ini, tapi inilah rasaku. Pastilah sangat sakit dan kesal dalam hatimu ketika mengetahui bahwa diriku lah itu, yang telah membuatmu dalam rasa yang jenuh ketika aku yang sendu. Tatkala mulai terangan dirimu yang kurindu tapi lihatlah hari itu, wahai diriku, kau telah membuatnya kecewa kau tak berhak bersama dengannya. mungkin inilah saatnya untuk memenuhi keinginannya. Selamat tinggal diriku yang sekarang dan diriku yang dahulu, kalian akan musnah bersama dengan kenangan dirimu. aku berharap kita dapat bahagia dibawah naungan cinta akan tuhanmu.

Comments

  1. If you can say hello, then you can say good bye

    ReplyDelete
  2. I don't know what I have to say, but actually your story remember me about my story about him. He sames like your crush, He go when I have some crush to him. He go and make me shying to have this feeling. Who am I? When every day I always think about him. I write poetry about this, anyway. But, my story happened in 2018, when I was in 10 grade in Senior High School. I feel you!

    ReplyDelete

Post a Comment